Showing posts with label Produk Jember. Show all posts
Showing posts with label Produk Jember. Show all posts

Sunday, 31 August 2014

Tembakau Jember Penuhi 40 Persen Kebutuhan Dunia



Kabupaten Jember telah dikenal sebagai sentra penghasil komoditi tembakau terbesar se Indonesia. Bahkan, tembakau dari Jember memiliki kualitas terbaik sehingga dengan mudah menembus pasar dunia. Sejauh ini, sekitar 40 persen kebutuhan tembakau yang diperuntukkan pembuatan cerutu dipasok dari Kabupaten Jember.
            Tembakau jenis Naa Oogst merupakan jenis tembakau yang menjadi komposisi cerutu dunia yang diproduksi di Bremen Jerman. Untuk cerutu dari isi dan juga pembungkusnya terbuat dari daun tembakau jenis ini. Untuk daun tembakau Naa Oogst kualitas terbaik akan dijadikan pembungkus cerutu atau biasa disebut dengan Dekomblaad. Sedangkan untuk tembakau Naa Oogst yang mempunyai kualitas di bawahnya, maka dijadikan sebagai isi cerutu atau disebit dengan Filler.
            Pihak yang menanam tembakau di Jember yakni berasal dari petani rakyat dan juga PT. Perkebunan Nusantara (PTPN). Tanaman tembakau jenis Naa Oogst tradisional mempunyai tingkat kerumitan yang cukup tinggi. Beberapa metode keamanan yang dipakai untuk budidaya tembakau ini yaitu Tembakau Bawah Naungan (TBN) atau memberikan warenguntuk mengelilingi lokasi tanaman ini.
            Harga tembakau Naa Oogst ini pun berselisih jauh dengan tembakau jenis Kasturi yang menjadi komoditas tanaman tembakau terbanyak di Kabupaten Jember. Harga jual tembakau Kasturi saat ini sekitar Rp 20 ribu per kilogram atau Rp 2 juta per kuintal. Sedangkan harga Naa Oogst bisa mencapai antara Rp 7 juta sampai Rp 12 juta per kuintal.
            Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Jember, Hendro Handoko menjelaskan, harga Naa Oogst yang sangat tinggi ini sebanding dengan jerih payah petani untuk membudidaya tanaman ini. Pasalnya, untuk mencapai kualilas ekspor, daun tembakau Naa Oogst harus bersih, halus dan bentuknya tidak boleh ada cacat. “Jika bolong sedikit saja sudah tidak bisa diterima di pasar ekspor. Oleh karena itu, petani sangat berhati hati untuk menanam tembakau jenis ini,” paparnya.
            Tanaman tembakau Naa Oogst ini tersebar di 18 kecamatan di Kabupaten Jember dan merupakan wilayah dengan luas tanaman tembakau terbesar se Jawa Timur. Rata-rata setiap hektar areal tanam tembakau jenis ini dapat menghasilkan sekitar 1,5 ton tembakau.
            “Artinya, jika menggunakan harga terendah sebesar Rp 7 juta per kuintal. Maka pendapatan petani tembakau Naa Oogst ini sekitar Rp 70 juta per hektar,” ungkapnya.
             Modal usaha yang dikeluarkan oleh petani untuk menanam tembakau ini setiap hektarnya sebesar Rp 50 juta. Biaya yang dikeluarkan memang sangat besar, namun jumlah tersebut dapat segera terlunasi oleh pendapatan penjualan tembakau pasca panen.
            “Dikarenakan dana yang dibutuhkan oleh petani sangat besar untuk menanam tembakau jenis ini, maka untuk petani rakyat yang menanam tembakau ini masih sangat sedikit. Masyarakat lebih banyak menanam tembakau jenis tembakau kasturi yang membutuhkan modal lebih kecil daripada Naa Oogst,” jelas Hendro.
            Dari jumlah produksi sebanyak 1,5 ton tersebut, sekitar 40 persen lahan atau sekitar 5 kuintal menghasilkan daun tembakau jenis Dekomblaad per hektarnya. Dan sebesar 60 persen atau sekitar 1 ton daun tembakau menghasilkan kualitas Filler.
            Namun besaran prosentase ini dapat menurun akibat serangan penyakit yang melanda tembakau di Jember. Produksi tembakau jenis Naa Oogst bisa menyusut menjadi 30 persen yang menghasilkan Dekomblaaddan 70 persen menghasilkan Filler.
            Sementara itu, harga panen daun pertama (hang) untuk jenis tembakau kasturi di Kabupaten Jember masih sangat rendah yakni sebesar Rp 2.000 per kilogram untuk daun bawah. Padahal pada kondisi normal seharusnya harga jualnya sekitar Rp 7.000 per kilogram. Namun untuk daun tengah masih lumayan mahal yaitu Rp. 2 juta per kuintalnya.
            “Untuk tembakau kasturi semakin tinggi daun yang dipetik, maka harganya semakin mahal karena kualitasnya lebih bagus. Setelah hang, panen daun berikutnya sekitar Rp 15.000 sampai Rp 25.000 per kilogram. Dan harga tertinggi bisa mencapai Rp 45.000 per kilogram,” terangnya.

Wednesday, 27 August 2014

UMKM Jember siap hadapi AEC




Persaingan perdagangan dan industri se Asia Tenggara atau biasa disebut Asean Economy Community (AEC) semakin dekat yakni pada tahun 2015, beberapa pengusaha baik pengusaha besar maupun Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di daerah sudah sepatutnya untuk mempersiapkan diri mengenai hal ini. Beberapa faktor kunci yang diperlukan oleh para pengusaha yakni informasi pasar yang akurat harus secepatnya dikuasai.
            Selama ini pengusaha yang bergerak di sektor UMKM memiliki pasar yang terbatas di area lokal Jember saja. Sehingga pemasaran produk tidak bisa maksimal dikarenakan pasar yang belum luas dan hanya sedikit yang menjangkau pasar ekspor, akhirnya produksi yang dilakukan pun hanya sebatas jumlah permintaan lokal saja.
            Oleh karena itu, untuk menanggulangi persoalan akses informasi, pengusaha dituntut untuk menjalin hubungan yang lebih luas dengan para pengusaha yang lain, baik itu antara pengusaha besar dengan pengusaha besar maupun pengusaha besar dengan pengusaha kecil.
            “Baik pengusaha kategori kecil atau pengusaha besar harus tergabung dalam suatu wadah untuk memudahkan mereka dalam akses informasi,” jelas Ketua Bidang UMKM Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Jember, Iriane Chairini Megah Wati.
            Manfaat tergabungnya para pengusaha dalam satu wadah organisasi yakni dapat mempermudah informasi ketersediaan bahan baku industri dan juga pemasaran yang akan dilakukan. Selain itu, jika ada beberapa pengusaha yang bergelut di bidang industri yang sama, maka pengusaha yang tergabung itu bisa melakukan kerjasama dalam perdagangan atau industri untuk semakin mengembangakan produksi.
            “Misalnya, ada pengusaha pembuatan kain, mereka bergabung dengan satu wadah bersama pengusaha konveksi. Pengusaha kain bisa melakukan kerja sama untuk memasok bahan baku berupa kain kepada pengusaha konveksi. Jadi, pemasaran lebih mudah,” papar Iriane yang juga merupakan pengusaha Batik Jember ini.
            Hal ini bisa mengurangi beban biaya transportasi produksi dibandingkan dengan pembelian bahan baku dari luar Kabupaten Jember. Artinya, para pengusaha diminta untuk menampakkan dirinya sehingga pengusaha lain mengetahui keberadaan mereka.
            “Kalau tidak nampak dan tidak menampakkan diri, maka pengusaha yang sebenarnya membutuhkan pasokan bahan dari mereka akan membeli bahan di luar Kabupaten Jember,” ucapnya.
            Terutama sektor industri, permasalahan distribusi bahan baku dari hulu ke hilir masih belum tuntas. Beberapa bahan baku mentah dikelola menjadi barang setengah jadi. Dikarenakan akses informasi antar pedagang masih lemah, beberapa pengusaha produk setengah jadi menjual produknya ke luar kota dan tidak menjual ke lokal Jember karena mencari harga jual yang lebih tinggi. Di sisi lain, pengusaha barang jadi  membeli bahan baku setengah jadi dari luar kota.
            “Sehingga tidak ada sinergi antar pengusaha lokal Jember. Seharusnya, persoalan produksi bahan baku hingga menjadi barang jadi bisa didapat dan dilakukan di Kabupaten Jember. Pemasaran produk juga bisa dimaksimalkan untuk kebutuhan lokal Jember. Jadi, uang itu berputar di Jember, bukan di daerah lain,” tuturnya.
            Iriane menilai, jumlah pengusaha sektor industri di Kabupaten Jember yang tergabung dalam suatu wadah organisasi pengusaha masih di bawah 10 persen. Hal ini membuat beberapa pengusaha tidak bisa menjalin kerjasama yang baik antar pengusaha. Lanjutnya, Kabupaten Jember mempunyai potensi yang baik untuk ditonjolkan untuk menghadapi AEC, seperti sektor industri kerajinan, makanan kemasan, dan juga sektor jasa.
            “Untuk memiliki daya saing yang tinggi nanti, pengusaha harus terlebih dahulu mendaftarkan produknya agar produknya bisa diterima oleh masyarakat luas. Mengurus perijinan itu sehingga calon konsumen yang akan membeli juga bisa melihat bahwa produk itu aman untuk dikonsumsi,” ujarnya.
            Dari sisi ini, Iriane berharap agar peran pemerintah bisa maksimal untuk mempermudah perijian bagi pengusaha. Jika setiap perijinan bagi pengusaha bisa terpenuhi, maka produk yang dihasilkan oleh pengusaha memiliki daya saing yang tinggi.
            “Jika produk kita banyak yang tidak terdaftar, lalu pada AEC banyak produk-produk yang lebih bagus dan bisa masuk dengan bebas di minimarket dan supermarket, maka pembeli juga akan banyak membeli produk yang berasal dari Impor,” ungkapnya.
            Dengan telah terjalinnya kerjasama AEC tahun 2015 ini, diharapkan pengusaha-pengusaha lokal mampu untuk bersaing. Momentum ini merupakan ajang pembuktian bagi Indonesia untuk bisa menaikkan pendapatan masyarakat terutama di sektor perdagangan dan industri. Ajang ini bisa menguntungkan bagi Jember, karena selain memiliki pasar domestik, pasar ekspor juga akan semakin terbuka lebar. Tetapi hal ini juga bisa menjadi bumerang, jika produk kita kalah bersaing. Karena hasilnya, justru produk-produk impor yang akan akan mendominasi pasar dalam negeri dan membuat produk-produk dalam negeri semakin kurang diminati oleh masyarakat.